DAYA DUKUNG DARI LINGKUNGAN

Lagi-lagi pesan saya , sebelum anda mulai usaha ternak anda cek dulu kesiapan dari lingkungan  tempat usaha anda, modal yang tersedia dan faktor pendukung lain. Komplitnya simak aja materi berikut ini…. Selamat berjuang!!
a. Lahan
Lahan diperlukan sebagai tempat pembangunan kandang, tempat menampung limbah baik kotoran (feses), air kencing (urine), dan mungkin sebagai lahan untuk menanam rumput.
Luas lahan yang diperlukan sangat tergantung dari jumlah ternak. Luas lahan akan bertambah jika ada program untuk penanaman rumput.

b. Iklim
masing-masing ternak mempunyai secara fisiologis memerlukan kondisi lingkungan yag tidak berbeda. Secara umum, kambing lokal Indonesia akan dapat berkembang dengan baik kisaran suhu 20-29 derajat celcius.
Jika pakan ternak sangat tergantung dengan pasokan hijauan, maka penting diperhatikan panjangnya musim hujan dan musim kemarau. Semakin pendek musim kemarau akan semakin baik.

c. Potensi Hijauan Makanan Ternak
Sumber HMT dapat dibagi dua yaitu rumput lapang (liar) dan rumput semaian (sengaja dipelihara).
Jika mengandalkan keberadaan rumput liar, penting diperhatikan populasi ternak yang mengkonsumsi rumput liar di wilayah tersebut. Umumnya Dinas Peternakan memiliki data tentang Kapasitas Peningkatan Populasi Ternak ruinansia (KPPTR) dan Potensi Maksimum berdasarkan Sumber Daya Lahan (PMSL).
Jika ada program penanaman rumput, penting diperhatikan luasan lahan yang diperlukan, rotasi panen dan rotasi pemeliharaan.

d. Potensi Makanan Non Hijauan
Untuk memberikan makanan yang bervariasi dan mengurangi ketergantungan dari pakan hijauan, dapat juga diinventarisasi potensi pakan non hijauan, seperti onggok singkong.
Jika pasokan pakan non hijauan dari pembelian, maka penting diperhatikan hitungan ekonomisnya.

e. Keterampilan yang dimiliki SDM
Sangat penting diperhatikan keterampilan SDM dalam memelihara kambing, sebab kesalahan sedikit saja dalam pengelolaan dapat mengakibatkan ternak sakit, pertumbuhan kurang,bahkan resiko kematian. Untuk itu sebelum dijalankan, tenaga pengelola harus mendapatkan keterampilan yang cukup.

f. Dukungan Dana dan Sistem Kerjasama

Dana untuk memulai usaha ternak kambing tidak harus dari diri sendiri. Sangat dimungkinkan untuk melakukan kerjasama dengan orang lain dengan melakukan kerjasama kemitraan (syirkah)
Yang penting di dalam syirkah adalah akad yang dilakukan harus jelas. Mulai dari besarnya dukungan dana, patungan dana jika sama-sama mempunyai andil modal, sistem bagi hasilnya (persentase pembagian keuntungan) dan tanggung jawab masing-masing pihak atas resiko kegagalan.

4. Peluang Pasar

Di daerah-daerah pedesaan sebagian besar masyarakat menjual ternak kambingnya melalui pedagang pengumpul (blantik). Resikonya adalah harga yang tentu lebih rendah (bahkan tidak jarang ditekan) dari harga di pasar. Hal ini terjadi karena biasanya peternak tidak memiliki informasi tentang harga pasar, mekanisme penjualan di pasar, adanya jaringan pedagang kambing, dan kadang peternak tidak mau repot-repot ke pasar.
Namun diwaktu mendatang perlu diusahakan jaringan pemasaran bagi peternak agar manfaat yang diperoleh juga maksimal.
Paling tidak ada tiga aspek yang penting untuk diproyeksikan, yaitu :

1. Membuat proyeksi populasi ternak di kandang
Proyeksi ini dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan jumlah kambing dan berbagai jenis umurnya di waktu ke depan. Sehingga dapat diperkirakan kebutuhan sumberdaya pada selang waktu tertentu misalnya kapan harus menambah jumlah pakan, kapan menambah kandang, kapan perlu menambah tenaga kerja, dan kapan akan ada ternak yang dapat dipasarkan.
Asumsi yang harus dipenuhi untuk membuat proyeksi ini adalah :

a. Jumlah Induk dan Pejantan yang akan dipelihara

b. Asumsi harga beli dan harga jual
c. Waktu kawin betina setelah melahirkan
d. Koefisien kematian (mortalitas) dari anak
e. Koefisien Produksi betina per kelahiran

2. Membuat Proyeksi Aliran Kas (Cash Flow)
Yakni proyeksi pemasukan dan pengeluaran uang kas. Proyeksi ini penting untuk melihat periode pengeluaran dan pemasukan kas sehingga dapat dilakukan penjadualan kapan harus menyediakan uang dan kapan akan menerima uang.

3. Membuat Proyeksi Pemasaran

Yakni perkiraan kapan usaha peternakan yanng dijalankan akan menghasilkan produk yang siap dijual. Asumsi yang harus ada adalah produk apa, atau kambing umur berapa yang akan dijual.
Proyeksi ini akan lebih baik jika telah ada gambaran tujuan pemasaran, sehingga selama mas produksi (pemeliharaan) di kandang dapat dilakukan pendekatan kepada calon pembeli.

4. Membuat Proyeksi Laba Rugi

Yakni perkiraan selisih antara pendapatan dan biaya yang dikeluarkan selama berlangsungnya usaha. Dalam usaha skala rumah tangga, biasanya lemah di pencatatan dan bercampurnya antara uang dapur dan uang untuk usaha.

oke deh itu aja dulu untuk urusan yang paling membosankan ini alias perencanaan usaha…hehe jadi ketauan males mikir. sampai jumpa lagi di postingan berikutnya, tentunya masih di dunia kambing.

salam sejahtera

APA TUJUAN ANDA BETERNAK KAMBING?

Sebelum kambing mulai dibeli, sebelum kandang mulai dibangun, cobalah tanya pada diri anda dengan jujur, sebenarnya apa tujuan anda beternak kambing, produk akhir apa yang ingin anda capai. Masih bingung?? Oke… sederhana saja, mau ternak kambing perah atau pedaging?? Ini adalah pertanyan dasar yang akan menentukan arah dari peternakan anda..jika modal kita kecil ya alangkah baiknya milih kambing jawa sebagai pedaging tapi jika modal bukan suatu masalah plus pengalaman yng cukup, kita boleh pertimbangkan kambing perah.  intinya kita mencoba focus pada satu inti. Belajar dari teman teman yang gagal dari usaha ini saya memutuskan memilih kambing jawa sebagai focus saya,ini sebagai contoh kasus saja ( ngeles.. aslinya gak punya modal buat beli kambing boer atau etawa.. hehee).

Setelah kita yakin dengan tujuan kita baru mulai perencanaan. Perencanaan usaha akan membantu kita dalam melangkah dan membuat keputusan, memudahkan membayangkan (memproyeksikan) perjalanan usaha kita ke depan, merancang pengelolaan sumberdaya yang ada  (misal : dana, lahan, tenaga kerja, dsb), melakukan monitoring/pengawasan disaat usaha berjalan, apakah sesuai dengan rencana atau tidak, sehingga dapat diambil keputusan yang tepat.
Beberapa contoh dibawah ini adalah macam pilihan usaha dengan produk akhir sebagai acuan yang kita bisa pilih, bisa dikombinasi atau bisa juga focus pada satu usaha. Pilihan ada di tangan anda..

a.Penggemukan (Fattening)
Yakni beternak yang tujuannya menggemukkan (membesarkan) tubuh kambing untuk meningkatkan berat badan saat penjualan. Program penggemukan ini biasanya dilakukan jika ada pasar yang telah ada atau dugaan kuat potensi pasar itu dapat diraih. Oleh karena itu penggemukan ini biasanya dilakukan peternak pada saat menjelang Hari Raya Kurban dimana kebutuhan akan kambing (jantan) sangat tinggi. Sedangkan penggemukan diluar momen tersebut sangat jarang ditemukan kecuali pada usaha peternakan yang telah mempunyai pasar tetap. Jenis kambing yang kita pilih bisa beragam, mulai dari kambing jawa randu, domba jawa, etawa, atau pun boer.
b. Pembiakan dari Bibit

Yakni beternak dengan memelihara induk dan pejantan yang tujuannya adalah menghasilkan anak, dibesarkan dan kemudian dijual. Biasanya tidak semua peternak memiliki pejantan, namun satu pejantan digilir dengan memberikan uang rokok kepada pemilik jantan sebagai penghargaan atas jasa pemeliharaan. Secara tidak langsung kebiasaan ini merupakan teknik peningkatan produktivitas jantan dan efisiensi biaya.
Usia anak yang dijual juga bervariasi, kadang anak lepas sapih, dari dan kebanyakan adalah penjualan saat kambing dewasa.

c. Peternakan Perbibitan (Penghasil Bibit/Breeding)
Yakni beternak dengan tujuan untuk menghasilkan kambing kualitas bibit. Usaha pembibitan ini jarang dilakukan oleh masyarakat karena memiliki persyaratan dan perlakuan khusus selama proses pemeliharaan berlangsung seperti kualitas induk dan pejantan yang bagus, proses seleksi anak, dan tata cara kawin harus memperhatikan silsilah yang baik. Model peternakan seperti ini biasanya dianut breeder kambing boer di Australia, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat dimana system registrasi tiap kambing telah berjalan dengan baik sehingga mudah untuk mengetahui asal usul kambing boer tersebut. Di Indonesia sisitem registrasi ternak ini sedang dirintis

c. Peternakan kambing perah
Yakni beternak dengan tujuan untuk menghasilkan susu dan hasil olahan susu (keju, yogurt). Usaha ini memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan mengingat kebutuhan masyarakat yang kian meningkat terhadap susu kambing. Dibutuhkan kambing jenis saanen, anglo Nubian atau yang popular di Indonesia adalah peranakan etawa.

 
Sedangkan dari Skala Usaha, peternakan dapat dibedakan :

a. Peternakan Skala Rumah Tangga

Yakni usaha peternakan yang diusahakan oleh masyarakat disekitar rumah mereka, atau seringkali bergabung dengan bangunan rumah. Jumlah kambing yang dipelihara biasanya paling banyak 20 ekor.

b. Peternakan Skala Kecil
Yakni usaha peternakan yang lebih besar dari skala rumah tangga hingga jumlah 500 ekor. Biasanya peternakan ini dikembangkan karena memiliki pasar tetap.

c. Peternakan Skala Menengah
Yakni usaha peternakan dengan jumlah ternak antara 500-1000 ekor. Di Indonesia, usaha peternakan kambing skala menengah ini masih sangat minim jumlahnya.

d. Peternakan Skala Besar
Yakni usaha peternakan kambing dengan jumlah kambing diatas 1000 ekor. Skala ini masih sangat jarang dilakukan di Indonesia. Kalaupun ada sifatnya hanyalah sebagai Holding Ground (conditioning phase) sebelum dilepas ke pasar. Sedangkan untuk jenis perbibitan, boleh dikatakan (hampir) tidak ada.

Gimana udah mulai ada pililihan ?  well, seribu langkah selalu diawali dari satu langkah semoga sukses untuk rekan rekan peternak. Salam

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.